TEKNIK DAN CARA SENI BONSAI BAGI PEMULA


SENI BONSAI UNTUK PEMULA

Bonsai adalah nama yang tidak asing bagi penggemar pohon-pohon kerdil di negara manapun. Bonsai pada huruf kanji merupakan pohon (Sai) yang ditanam di dalam jambangan (pot).
Selain bonsai sebagai pemandangan indah dan menarik, bonsai juga dapat membuat penghasilan yang menggiurkan, dimana cara kita merawat dan membuat bentuk sehingga menarik, elegant dan indah, serta umurnya yang tua membuat bonsai jadi tampak lebih bernilai.

PENGENALAN BONSAI UNTUK PEMULA

SEJARAH BONSAI
Tanaman yang dipelihara secara khusus di dalam pot puluhan tahun lamanya, tentu tidak dapat tumbuh secara normal. Pohon-pohonan yang semula dapat tumbuh beberapa meter tingginya dengan pemeliharaan khusus tumbuhnya dapat menjadi kredil yang dinamakan dengan bonsai, dimana pohon tersebut dapat diberi bentuk beraneka ragam.
Seni “pohon kerdil” sebenarnya mulai dikembangkan di Tiongkong sejak abad sebelas, mulai masuk ke Jepang pada abad lima belas. Di Jepang diberi nama dengan Bonsai.
Seni bonsai dari Jepang setelah perang dunia II menjalar ke dunia barat dan Amerika Serikat. Akhirnya negara lain ikut serta dalam pengerdilan pohon. Untuk dapat membedakan bonsai dari tanaman lain-lainnya, perlu kita mengetahui ciri-ciri, ukuran serta gaya (style) bonsai, dan cara pemeliharaannya.

CIRI-CIRI BONSAI
Bonsai adalah pohon kecil di dalam pot sebagai hasil pengkerdilan dan training (proses penyempurnaan bentuk pohon), yang pada umumnya memerlukan waktu bertahun-tahun. Training merupakan unsur yang terpenting dan teknik pokok dalam proses pembuatan bonsai yang berlangsung terus sepanjang hidup pohonnya.
Tidak setiap pohon yang kerdil di dalam pot dapat dinamakan bonsai. Hanya saja diusahakan penyempurnaannya, terutama bentuknya, maka ia dapat disebut bonsai, karena untuk dapat dinamakan bonsai, pohon yang bersangkutann harus memenuhi 3 syarat, yaitu:
  1. Ukuran: kecil atau kerdil. Dimana bonsai ini terbuat dari jenis tanaman tertentu yang tumbuh di alam bebas, umumnya tinggi mencapai 20 m berukuran cukup besar, dan ada tumbuhan berukuran ± 1½ m, inilah yang diambil dan dirawat.
  2. Bentuk: sesuai dengan bentuk-bentuk jenis tanaman yang tumbuh di alam bebas, elegant, serta ada keseimbangan (balanced), terutama dalam pertumbuhan dahan-dahannya, sehingga sedap dipandang mata. Ada juga bonsai bukan dari pohon yang tumbuh di alam bebas, tetapi bentuknya elastis, sehingga bonsai menjadi bernilai.
  3. Umur: tua, biasanya berumuran belasan, puluhan bahkan ratusan tahun.
  4. Akan tetapi, orang yang mengerti seluk beluk bonsai akan lebih menitikberatkan syarat bentuk dari pada syarat ukuran dan umur. Dimana bentuk bonsai dapat dibentuk dengan estetis dan dekoratif sehingga menjadi elegan dan bernilai.
  5. Sebaliknya, seorang pengagum yang awam akan merasa kecewa apabila mengetahui bonsai yang dikaguminya itu belum begitu tua. Dimana orang mengira, bahwa yang dinamakan bonsai hanyalah pohon kerdil yang sudah berumur ratusan tahun.


UKURAN BONSAI
Berdasarkan ukurannya (tinggi), bonsai dapat dibagi dalam lima kelompok:
1. Amat kecil (dalam bahasa Jepang disebut mame bonsai), berukuran hanya sampai 5 cm.
2. kecil, berukuran 5 – 15 cm
3. sedang, berukuran 15 – 30 cm
4. besar, berukuran 30 – 75 cm
5. raksasa, berukuran 75 cm - ± 1½ m
sebatang bonsai “raksasa” dari jenis goyo-matsu (fiveneedle pine, Pinus pentaphylla Mayr), berumur lebih dari 350 tahun dan berukuran 1.30 m, terdapat di halaman Tokyo Horticultural School).
Membuat Mame Bonsai ini sangat sulit sekali, karena ukurannya yang sangat kecil membuat tantangan bagi seorang pembuat bonsai untuk menguji keahliannya, agar menjadi indah, elegant, dan bernilai.

GAYA BONSAI
Berbagai macam gaya (style) yang berdasarkan bentuknya, yaitu bentuk secara keseluruhan (overall shape), dapat dikelompokkan ke dalam lima gaya dasar (Gb. 1), masing-masing terdiri dari satu pohon berbatang satu.
Dalam bahasa Jepang, kelima gaya dasar itu disebut:
  1. Chokkan (tegak lurus, formal upright)
  2. Tachiki (tegak, informal upright)
  3. Shakan (miring, slanting)
  4. Han-kengai (setengah menggantung, semi cascading)
  5. Kengai (menggantung atau bagaikan air terjun kecil, cascading)

Selain lima gaya dasar ini, masih ada satu gaya lagi, yaitu moyogi (pohon bentuk, figure tree), merupakan suatu adaptasi secara bebas dari gaya tegak lurus, tegak dan miring, tanpa mengindahkan pola dasarnya yang lazim berlaku bagi gaya-gaya tersebut. Akan tetapi gaya moyogi tidak atau belum dapat diterima oleh para connoisseur, walaupun sudah banyak penggemarnya.
Bermacam-macam gaya dasar diatas berkembang menjadi berbagai gaya yang sekarang ada di dunia bonsai (Gb.2), terdiri atas:
  1. Bankan (melingkar, coiled)
  2. Hokidachi (berbentuk sapu terbalik)
  3. Fukinagashi (tumbuhnya miring dan semua dahannya hanya terdapat pada satu sisi batangnya, seakan-akan akibat tiupan angin yang terus menerus dari satu jurusan)
  4. Neagari (akar-akar terlihat)
  5. Nejikan (terpelintir, twisted)

Selain pengelompokkan menurut gayanya, bonsai juga dapat diklasifikasikan menurut jumlah pohon yang ditanam di dalam satu pot, yaitu:

  1.  Ippon-ue (satu pohon)
  2. Soju (dua pohon)
  3. Sambon-yose (tiga pohon)
  4. Gohon-yose (lima pohon)
  5. Nanahon-yose (tujuh pohon)
  6. Kyuhon-yose (sembilan pohon)
  7. (perhatikan: kecuali Soju, semuanya berjumlah ganjil)
  8. Yosu-ue (banyak pohon, lebih dari sembilan)
  9. Kelompok Ippon-ue (satu pohon) dapat dibagi atas:
  10. Tankan (satu pohon berbatang satu)
  11. Sokan (satu pohon berbatang dua)
  12. Sankan (satu pohon berbatang tiga)
  13. Gokan (satu pohon bebatang lima)
  14. Nanakan (satu pohon berbatang tujuh)
  15. Kyukan (satu pohon berbatang sembilan)
  16. Kelompok bonsai lain yang tidak ditanam di dalam pot, akan tetapi di tanam di atas batu, yaitu:
  17. Sekijoju (akar-akarnya “mencengkram” batunya dan menjalar sampai masuk ke dalam tanah yang terdapat pada alas, tempat batu itu berdiri) (Gb.3)
  18. Ishitsuki (menempel pada batu)

CARA MERAWAT BONSAI
Merawat lukisan, ukiran-ukiran, patung dan benda seni yang mati lainnya, lebih sulit lagi merawat bonsai sebagai seni yang hidup, dimana mengandung banyak resiko.
Pertama, bonsai dapat merana, bahkan mati sebelum waktunya, apabila:

  •  Kurang mendapat air.
  • Terlalu banyak mendapat air atau kurang lancarnya pembuangan air siraman yang berlebihan.
  • Kurang mendapat pupuk.
  • Terlalu banyak mendapat pupuk (terutama pupuk buatan)
  • Diserang hama: ulat, kutu, serangga, keong, dan lain-lain
  • Diserang penyakit: bakteri, jamur, virus.
  • Terlalu lama ditaruh di dalam ruangan yang tidak atau tidak cukup mendapat sinar matahari dan udara segar.
  • Tanahnya tidak diganti pada waktunya.
  • Tanahnya diganti dengan jenis tanah yang tidak cocok untuk bonsai yang bersngkutan.

MERAWAT & MENATA BONSAI

bonsai yang indah bentuknya pada waktu dibeli, tentulah tinggi harganya, tetapi beberapa bulan kemudian dapat mengecewakan pemiliknya, dikarenakan banyak cabang dan ranting baru yang tumbuh dimana-mana atau cabang dan ranting lama yang tumbuh memanjang, sehingga keindahan bonsai tersebut menjadi hilang. Cara mengatasinya perbaiki bonsai tersebut dengan cara pruning, trimming, dan wiring