Mendulang Rupiah dari Tanaman Bonsai dengan Karang Buatan

Tips Alternatif Bonsai Cantik Dengan Karang Buatan



Tanaman hias bonsai di tangan Rokhim bisa didongkrak harganya lebih tinggi. Itu karena dia menambahkan ornamen karang buatan atau relief pada tanaman hias kerdil itu.

Karang buatan warga Gang V Nomor 1 Bandar Kidul, Kota Kediri, Jawa Timur ini, sekilas mirip dengan bebatuan asli. Apalagi didukung dengan pemilihan warna reliefnya, tampilannya mengecoh mata karena betul-betul mirip batu alam.

"Kuncinya memang harus telaten," ujar Rokhim saat ditemui di rumahnya, Senin (20/2/2017).

Kelebihan karang buatan itu di antaranya karena dapat dengan bebas dibentuk sedemikian rupa, menyesuaikan bentuk tanaman. Selain itu, sebagai alternatif pilihan karena bonsai yang tumbuh pada batu asli cukup susah diperoleh.

Pria usia 41 tahun ini mampu membuat relief untuk tanaman hias tanpa dibekali pendidikan formal. Meski belajar secara otodidak, dengan tangan telaten dan kejeliannya, dia mampu menghasilkan karya yang bernilai jual.

Bahan yang digunakan juga cukup sederhana dan mudah didapat, yaitu hanya dengan bermodalkan semen putih untuk mempererat dan membentuk pola serta pewarna alami.

Selain itu, dia juga cukup kreatif untuk memanfaatkan barang bekas dalam usahanya itu.

Bapak dua anak itu menggunakan limbah potongan asbes sebagai pengganti potongan batu asli untuk dipakai sebagai bahan relief.

Penggunaan asbes itu, menurutnya, karena lebih mudah dibentuk sesuai selera dibanding batu asli. Apalagi untuk mendapatkan batu alam sebagai bahan relief, relatif susah dan berharga mahal.

"Kalau asbes, mudah nyarinya," imbuhnya.

Lamanya pengerjaan sebuah relief tergantung besar kecilnya tanaman bonsai itu sendiri. Untuk tanaman ukuran tinggi 50 sentimeter, misalnya, setidaknya Rokhim membutuhkan 2 hari masa pengerjaan.

Pembuatan relief itu diawali dengan membentuk pecahan asbes sebagai kerangkanya. Pecahan asbes yang telah tertempel pada bahan tanaman, kemudian dibalut dengan semen putih.

Setelah itu, dia kemudian menyapu seluruh bagian relief itu dengan warna cokelat tanah. Warna itu dari bahan alami karena berasal dari rendaman tanah liat.

Dengan cara itu, bonsai yang awalnya harga R 50.000 bisa naik hingga Rp 500.000. Dalam sebulan, dia mengaku mampu menjual hingga 10 pot tanaman bonsai dengan relief itu.

Para pembelinya berasal dari beragam kalangan, bahkan banyak juga yang berasal dari luar kota, terutama kota sekitar Kediri seperti Tulungagung, Blitar, Malang, hingga Surabaya.

Rokhim menekuni usaha khusus relief bonsai itu sekitar 2 tahunan ini. Namun untuk bonsai biasa atau tanpa relief, dia sudah cukup lama menggandrunginya.

Urusan bonsai bukanlah profesi utamanya. Bonsai hanyalah memenuhi hasrat hobinya, sehingga pengerjaannya pun sambil lalu. Profesi utama Rokhim adalah penjual nasi goreng yang biasa berjualan dari malam hingga dini hari.

Meski demikian, bisnis tanaman bonsai dengan relief ini ternyata menghasilkan uang yang cukup lumayan untuk membuat asap dapurnya terus mengepul.

Ke depannya, Rokhim berharap mempunyai rumah yang cukup luas sehingga leluasa merawat bonsainya. Sebab, rumahnya saat ini cukup kecil dan dia hanya bisa memanfaatkan halamannya yang sempit untuk menjalani hobinya itu

Sumber : KEDIRI, KOMPAS.com.